Usai Israel membongkar semua detektor logam di pintu masuk kompleks
Al-Aqsa, warga Muslim Palestina masih menolak untuk beribadah di dalam
masjid. Dilansir The Guardian, Rabu, 26 Juli 2017, mereka tetap
melakukan salat di luar masjid sebagai protes atas perubahan aturan
keamanan yang diterapkan Israel di kompleks tersebut sejak 14 Juli
2017.
Imam masjid di Jerusalem, Muhammad Hussein, mengatakan, pihakya ingin
kondisi di Al-Aqsa dikembalikan seperti sebelum 14 Juli. Ini artinya,
kata Hussein, semua alat yang dipasang Israel sejak 14 Juli, harus
dibongkar.
Saat ini detektor logam memang telah dilepas, tetapi sejumlah kamera pengintai masih terpasang. Hussein pun meminta Israel untuk tak memasang alat keamanan apapun di kompleks yang di kalangan Muslim dikenal dengan nama Haram al-Sharif, dan sementara Israel dengan nama Har Ha Bayit atau Temple Mount.
“Kami perlu tahu secara terperinci soal penjagaan keamanan apa saja yang telah dilakukan Israel di kompleks Haram al-Sharif setelah 14 Juli lalu. Kami ingin kondisinya dikembalikan seperti sebelum 14 Juli," ujar Hussein, seperti dilaporkan The Guardian, Rabu, 26 Juli 2017.
Sementara Jordania yang selama ini ditunjuk sebagai pengelola Al-Aqsa, juga meminta Israel untuk mengembalikan kondisi keamanan di Al-Aqsa seperti sebelum 14 Juli 2017.
Seperti diketahui, gara-gara dua polisinya tewas ditembak tiga pria Arab-Israel, pemerintah Tel Aviv sejak 14 Juli meningkatkan keamanan di kompleks Al-Aqsa dengan menempatkan detektor logam dan pintu putar. Namun karena protes yang terus dilakukan warga Palestina membuat Israel akhirnya membongkar detektor logam tersebut pada 25 Juli 2017.
Pembekuan hubungan
Sementara itu, dilansir BBC, Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan, pihaknya tetap memberlakukan pembekuan hubungan dengan Israel, kendati detektor logam di masjid Al Aqsa sudah disingkirkan. Abbas menuntut agar prosedur pengamanan dipulihkan seperti sebelum terjadinya serangan hampir dua pekan lalu saat dua polisi Israel tewas ditembak tiga warga Arab-Israel.
Menurut Mahmud Abbas, pengembalian prosedur pengamanan ke era sebelum 14 Juli merupakan hal yang penting agar kondisi di Jerusalem kembali normal. "Dan kita bisa kembali menjalankan tugas kita terkait hubungan bilateral," ujar Abbas.
Pemasangan detektor logam itu memicu kemarahan warga Palestina yang menudingnya sebagai upaya Israel menguasai kawasan suci yang disengketakan itu. Terjadi sejumlah bentrokan yang kemudian menewaskan sejumlah warga Palestina dan Israel.
Israel awalnya beralasan, detektor logam itu dimaksudkan untuk mencegah penyelundupan senjata ke kompleks Al Haram, tetapi kini memutuskan untuk menggantinya dengan alat pemeriksaan lain
Saat ini detektor logam memang telah dilepas, tetapi sejumlah kamera pengintai masih terpasang. Hussein pun meminta Israel untuk tak memasang alat keamanan apapun di kompleks yang di kalangan Muslim dikenal dengan nama Haram al-Sharif, dan sementara Israel dengan nama Har Ha Bayit atau Temple Mount.
“Kami perlu tahu secara terperinci soal penjagaan keamanan apa saja yang telah dilakukan Israel di kompleks Haram al-Sharif setelah 14 Juli lalu. Kami ingin kondisinya dikembalikan seperti sebelum 14 Juli," ujar Hussein, seperti dilaporkan The Guardian, Rabu, 26 Juli 2017.
Sementara Jordania yang selama ini ditunjuk sebagai pengelola Al-Aqsa, juga meminta Israel untuk mengembalikan kondisi keamanan di Al-Aqsa seperti sebelum 14 Juli 2017.
Seperti diketahui, gara-gara dua polisinya tewas ditembak tiga pria Arab-Israel, pemerintah Tel Aviv sejak 14 Juli meningkatkan keamanan di kompleks Al-Aqsa dengan menempatkan detektor logam dan pintu putar. Namun karena protes yang terus dilakukan warga Palestina membuat Israel akhirnya membongkar detektor logam tersebut pada 25 Juli 2017.
Pembekuan hubungan
Sementara itu, dilansir BBC, Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan, pihaknya tetap memberlakukan pembekuan hubungan dengan Israel, kendati detektor logam di masjid Al Aqsa sudah disingkirkan. Abbas menuntut agar prosedur pengamanan dipulihkan seperti sebelum terjadinya serangan hampir dua pekan lalu saat dua polisi Israel tewas ditembak tiga warga Arab-Israel.
Menurut Mahmud Abbas, pengembalian prosedur pengamanan ke era sebelum 14 Juli merupakan hal yang penting agar kondisi di Jerusalem kembali normal. "Dan kita bisa kembali menjalankan tugas kita terkait hubungan bilateral," ujar Abbas.
Pemasangan detektor logam itu memicu kemarahan warga Palestina yang menudingnya sebagai upaya Israel menguasai kawasan suci yang disengketakan itu. Terjadi sejumlah bentrokan yang kemudian menewaskan sejumlah warga Palestina dan Israel.
Israel awalnya beralasan, detektor logam itu dimaksudkan untuk mencegah penyelundupan senjata ke kompleks Al Haram, tetapi kini memutuskan untuk menggantinya dengan alat pemeriksaan lain
No comments:
Post a Comment