loading...

Tuesday, October 3, 2017

Stuntman, Penantang Bahaya di Industri Sinema


Sebuah obor dinyalakan di siang bolong. Di depannya, ada seorang lelaki yang baru selesai memakai jaket. “Siap,” teriak sang lelaki. Tak berapa lama, obor itu meluncur ke arahnya.
“Mbuuusss,” demikian bunyi api dengan cepat menjalar ke tubuh si lelaki. Lelaki itu kemudian berlari dan segera mencari bak air. Ia pun terjun ke bak, untuk memadamkan api yang nyaris memanggangnya hidup-hidup.

Tepukan tangan tiba-tiba muncul sesaat setelah sang lelaki bangkit dari bak air berukuran 2 x 3 meter persegi itu. “Sip, Fian. Setengah menit. Lama banget,” ucap seorang pengarah gaya.
Insiden itu berlangsung dalam latihan pemain pengganti  atau stuntman. Latihan ini dilakukan sebagai bagian mengasah kemampuan untuk adegan laga film layar lebar.
Lelaki bernama Sopian Nirwana, yang memeragakan adegan terbakar itu, merupakan salah stuntman. Pekerjaan sebagai stuntman ini sudah dijalani lelaki 23 tahun ini selama tujuh tahun. Ia tergabung dalam Piranha Stunt, sebuah komunitas pemeran pengganti.
Selama menjadi pemeran pengganti, lelaki yang karib disapa Fian ini, sudah berulang kali memeragakan adegan berbahaya. “Sebelumnya juga sudah pernah adegan kebakar," kata Fian kepada Liputan6.com, usai berlatih di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Senin 11 September 2017.
Selain adegan terbakar, adegan berkelahi, jatuh dari ketinggian, tertabrak mobil, hingga lompat menembus kaca, sudah menjadi hal biasa yang dilakono Fian. “Bisa dibilang sih, ini hobi yang berpenghasilan,” kata Fian berkelakar.

Fian mengaku amat menikmati profesinya meski pekerjaan pemeran pengganti bukan pekerjaan mudah.
Tidak mudah tapi sering dibutuhkan. Sutradara Hanung Bramantyo menerangkan, dirinya kerap menyewa pemain pengganti untuk sejumlah adegan. Pemain pengganti ini, kata Hanung, bukan hanya dibutuhkan dalam adegan laga belaka. Film drama juga membutuhkan stuntman untuk adegan berbahaya atau adegan aksi khusus.

“Aktor biasa kalau jatuh kesakitan. Kalau stuntman, tiga kali jatuh baru merasakan kesakitan,” ucap Hanung.
Kemampuan ini, kata Hanung, membuat stuntman menjadi istimewa. Sebab, stuntman sebenarnya punya tuntutan lebih dari aktor utama.
Alasan ini menjadi sebab stuntman butuh berlatih khusus. Muhammad Yazid, mentor Fian, mengatakan seorang stuntman wajib punya skill dan teknik. Maklum, pekerjaan ini cukup berisiko.
Meski punya risiko dan berperan penting dalam sebuah film, apresiasi terhadap stuntman dalam industri film Indonesia, masih kurang. Tak hanya soal bayaran, kesempatan pun terbatas. “Biasanya kami cuma (tunggu) dikontak rumah produksi film atau produser.

No comments:

Post a Comment

Baca juga :

Deteksi Yamaha Mio J tidak bisa nyala