memasuki tahun ke-3, karbu vakum mulai bikin ulah. “Motor boros banget setara mobil. Tapi kalau mobil masih ada AC-nya, nggak kehujanan juga,” keluh Seno, biker yang lebaran tahun lalu ngabisin 45 ribu buat pulang kampung Yogyakarta-Temanggung.
Ketika motor dibongkar, motor Yamaha Mio tunggangannya masih ciamik. Komposisi spuyer masih standar pabrik, begitu juga dengan mesin. Begitu juga waktu mengetes kevakuman dan membran karetnya.
Pokoknya tidak ada yang bocor. “Tapi sudah lebih dari 3 kali bongkar karbu dan bersih-bersih sampai dipereteli sekecil-kecilnya tetap aja boros! Belum ketemuobatnya,” keluh pehobi otak-atik motor ini sembari berpikir ganti yang injeksi, tapi duit masih cekak.
Yang bikin kesal, per skep tidak termasuk spare parts yang dijual ngecer, alias harus beli satu set karbu. Jurus hematnya, per diganjal pakai ring 1,5 mm pada landasannya atau dudukan per skep untuk memperkeras ulang tekanannya. Tentu saja diameter rung harusa sama dengan lingkar per.Hampir putus asa, pikirannya mengarah ke per skep karbu. “Saya yakin tekanan per skep karbu sudah lemah karena dimakan usia. Skep mesin keburu cepat membuka dengan sedikit kevakuman. Ujung-ujungnya main–jet kelewat cepat bekerja sebelum kecepatan gas sesuai kebutuhan,” analisanya mirip tukang insinyur.
Per jadi bisa menahan skep lebih lama dibukaan sempit. Itu memaksa pilot–jet bekerja maksimal dengan memperbaiki kualitas semburan bensin.
“Sekarang pulang ke kampong ke Yogya cukup 15 ribu. Modal cuma Rp 2 ribu! He, he..” tertawanya makin lebar. Tapi Seno meningatkan trik ini sangat jitu untuk kota-kota yang sifatnya stop and go. Power terasa cepat menggapai 60 km/jam, tetapi agak melambat untuk gaet kecepatan lebih tinggi. “Kalau mau lebih cepat, main jet bisa dinaikkan satu step, atau ketebalan ring per dibikin tipis,” tutupnya.Kalau sudah ditutup berarti titik.
No comments:
Post a Comment