Awalnya sempat saya berharap agar tidak mendapat panggilan untuk mengikuti diklat prajabatan selama bulan Ramadhan. Selain karena ingin belajar untuk lebih memanfaatkan momen ibadah Ramadhan dengan baik, saya juga merasa tidak akan mampu mengikuti kegiatan-kegiatan pembelajaran dan pelatihan secara intensif dalam keadaan perut kosong. Saya yang berdarah rendah akan mudah kehilangan konsentrasi dan mengantuk jika tidak disegarkan oleh minuman berkafein manakala harus menfokuskan pikiran terhadap sesuatu dalam waktu lama. Tapi Allah punya rencana lain, saya malah mendapat panggilan mengikuti diklat tersebut diawal bulan puasa. Maka berdasarkan konsep zero mind process dan penggunaan otak kanan yang diajarkan selama prajab, saya pun mencoba melihat timing dan aktivitas yang harus saya ikuti selama disana dari sisi kebaikan yang akan didatangkannya kedalam hidup saya. Akibatnya saya mampu menjalani masa-masa penuh tantangan itu dengan hati yang senang dari awal-awal sampai saat prajab hampir berakhir, saat ini.
Berada on the top of my list dari tujuan mengikuti prajab adalah untuk menambah kawan dan membuka relasi dengan sesama CPNS seangkatan. Selama mengikuti karantina di tempat dengan fasilitas sederhana yang mengingatkan saya masa-masa tinggal di asrama waktu sekolah menengah dan masa-masa indekos saat-saat kuliah, membuat saya mengenal berbagai karakter peserta diklat. Masa-masa karantina bukan hanya saat untuk penggemblengan disiplin, tetapi juga ketahanan mental dan fisik. Bagi sebagian peserta yang serius dan penuh minat dalam mengikuti materi dan kegiatan-kegiatan ekstra yang diberikan, mereka mengikuti diklat dengan sangat serius layaknya sedang mengikuti kuliah S2 atau sedang mengikuti shortcourse. Saya mencatat dalam hati siapa-siapa saja yang memiliki keunggulan karakter, pemikiran dan keilmuan. Mereka adalah orang-orang yang pantas untuk dikagumi dan insya Allah akan meniti masa depan yang cerah nantinya. Sebaliknya, ada sebagian kecil lainnya yang memiliki energi berlebih dan kemudian disalurkan ke hal-hal yang menurut saya cenderung kearah negatif.
Saya sendiri mensyukuri beberapa pengalaman dan kesempatan belajar yang menurut saya tidak begitu mudah untuk didapatkan dalam lingkup pergaulan saya sehari-hari yang sempit. Di tempat karantina saya belajar untuk keluar dari kepompong dan melibatkan diri dalam kegiatan bersama. Diawal-masa masa karantina saya ditugaskan untuk menyampaikan beberapa patah kata penutupan dalam bahasa Inggris. Ternyata ini membuka jalan untuk keaktifan saya dalam kelompok di hari-hari selanjutnya. Kemudian saya dilibatkan menjadi pembina apel malam, pembina apel pagi dan kerap ditunjuk menjadi pembicara mewakili teman-teman dalam diskusi kelompok. Disini saya baru menyadari bahwa kebiasaan saya menulis note FB dan blog di kompasiana ternyata sangat membantu ketika saya merangkai kata-kata secara lisan. Karena belum terbiasa bergabung dalam kelompok diskusi, dalam hal wawasan dan pengetahuan umum, saya sama sekali bukan a well rounded person, dalam artian terkadang saya cukup menguasai satu topik diskusi namun sangat berkekurangan pengetahuan tentang topik diskusi yang lain. Maka jika dihadapkan dengan pertanyaan di bidang yang tidak saya kuasai, saya sering hanya mengandalkan logika dan retorika, namun karena sepertinya sipenanya juga kurang menguasai topik diskusi, maka untuk sementara jawaban semacam itu cukup memuaskan. Saya juga menjadi aktif bertanya dan menanggapi berbagai pertanyaan manakala widyaiswara atau pejabat daerah sedang menyampaikan materi di kelas.
Berkaitan dengan kegiatan ekstra, saya sangat senang karena berkesempatan untuk berlatih tari saman. Sebagai orang Aceh, saya merasa bisa menari saman sudah menjadi keharusan. Karena tarian Aceh ini sudah sangat dikenal dan membawa nama Indonesia di kancah internasional. Ternyata baru diusia kepala tiga saya berkesempatan untuk mempelajari tarian ini. Satu hal lagi yang mungkin lucu, adalah selama diklatlah saya pergi ke lapangan dan menonton futsal untuk pertama kali seumur hidup, hehe…..
Masih ada beberapa hari pelaksanaan diklat prajabatan, saya optimis akan ada pengalaman baru yang lain menanti disana.
Friday, December 1, 2017
Diklat Prajabatan: Masa-masa Sulit Penuh Kenangan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment